TO-4 Literasi dalam Bahasa Indonesia
0 dari 30 pertanyaan telah diselesaikan
Pertanyaan:
PETUNJUK:
Selamat Belajar !
Sudah dikerjakan
Kuis sedang loading...
Anda harus masuk atau mendaftar untuk memulai kuis.
Anda harus menyelesaikan kuis dibawah ini, untuk memulai kuis ini:
0 dari 30 pertanyaan terjawab dengan benar
Waktu Anda:
Waktu yang telah berlalu
Anda mendapatkan 0 poin dari total 0 poin, (0)
| Nilai rata-rata |
|
| Nilai Anda |
|
Yess, kamu berhasil mencapat poin >= 50%. Selamat ya:)
Yaah, kamu belum berhasil mencapai point >=50%. Ayo coba lagi, dan tetap Semangat ya!
| No. | Nama | Masuk ke | Poin | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| Tabel sedang loading | ||||
| Data tidak tersedia | ||||
Di sebuah dusun terpencil di tepi hutan, hiduplah seorang penebang kayu bernama Hasan. Setiap hari, Hasan berangkat ke hutan dengan membawa kapaknya untuk mencari kayu. Pekerjaannya tidak mudah, karena ia harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai tantangan alam, seperti hujan deras dan medan yang sulit. Namun, Hasan tetap bersemangat dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Suatu siang, saat Hasan sedang istirahat di bawah pohon besar, ia mendengar suara minta tolong dari dalam hutan. Tanpa berpikir panjang, Hasan segera mencari sumber suara tersebut. Ternyata, ia menemukan seorang pria tua yang terjatuh dan terjebak di antara akar-akar pohon besar. Hasan dengan cepat membantu pria tua itu dan membawanya ke tempat yang aman.
Setelah berhasil menolongnya, Hasan mengantar pria tua itu pulang ke desanya. Pria tua tersebut sangat berterima kasih dan ingin memberikan hadiah kepada Hasan, namun Hasan menolak dengan sopan. la hanya tersenyum dan mengatakan bahwa menolong sesama adalah kewajiban kita sebagai manusia.
Kebiasaan yang diangkat dalam cerpen ini adalah…
Kebiasaan yang ditekankan dalam cerita ini adalah sikap Hasan yang menolong pria tua yang terjebak tanpa mengharapkan imbalan
Hal ini terlihat dari penolakannya terhadap hadiah yang ditawarkan oleh pria tersebut. Sikap Ini menunjukkan kebaikan hati Hasan yang tulus untuk membantu orang lain
Kebiasaan yang ditekankan dalam cerita ini adalah sikap Hasan yang menolong pria tua yang terjebak tanpa mengharapkan imbalan
Hal ini terlihat dari penolakannya terhadap hadiah yang ditawarkan oleh pria tersebut. Sikap Ini menunjukkan kebaikan hati Hasan yang tulus untuk membantu orang lain
Di sebuah dusun terpencil di tepi hutan, hiduplah seorang penebang kayu bernama Hasan. Setiap hari, Hasan berangkat ke hutan dengan membawa kapaknya untuk mencari kayu. Pekerjaannya tidak mudah, karena ia harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai tantangan alam, seperti hujan deras dan medan yang sulit. Namun, Hasan tetap bersemangat dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Suatu siang, saat Hasan sedang istirahat di bawah pohon besar, ia mendengar suara minta tolong dari dalam hutan. Tanpa berpikir panjang, Hasan segera mencari sumber suara tersebut. Ternyata, ia menemukan seorang pria tua yang terjatuh dan terjebak di antara akar-akar pohon besar. Hasan dengan cepat membantu pria tua itu dan membawanya ke tempat yang aman.
Setelah berhasil menolongnya, Hasan mengantar pria tua itu pulang ke desanya. Pria tua tersebut sangat berterima kasih dan ingin memberikan hadiah kepada Hasan, namun Hasan menolak dengan sopan. la hanya tersenyum dan mengatakan bahwa menolong sesama adalah kewajiban kita sebagai manusia.
Apakah nilai karakter yang paling menonjol dari tokoh Hasan dalam cerita tersebut?
Dalam cerita, Hasan menunjukkan keberanian saat mendengar suara minta tolong dari dalam hutan. la tanpa ragu memasuki area yang mungkin berbahaya demi menyelamatkan seseorang yang memerlukan bantuan. Meskipun Hasan juga menunjukkan tanggung jawab dalam bekerja, nilai yang paling menonjol dalam situasi ini adalah keberaniannya
Dalam cerita, Hasan menunjukkan keberanian saat mendengar suara minta tolong dari dalam hutan. la tanpa ragu memasuki area yang mungkin berbahaya demi menyelamatkan seseorang yang memerlukan bantuan. Meskipun Hasan juga menunjukkan tanggung jawab dalam bekerja, nilai yang paling menonjol dalam situasi ini adalah keberaniannya
Di sebuah dusun terpencil di tepi hutan, hiduplah seorang penebang kayu bernama Hasan. Setiap hari, Hasan berangkat ke hutan dengan membawa kapaknya untuk mencari kayu. Pekerjaannya tidak mudah, karena ia harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai tantangan alam, seperti hujan deras dan medan yang sulit. Namun, Hasan tetap bersemangat dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Suatu siang, saat Hasan sedang istirahat di bawah pohon besar, ia mendengar suara minta tolong dari dalam hutan. Tanpa berpikir panjang, Hasan segera mencari sumber suara tersebut. Ternyata, ia menemukan seorang pria tua yang terjatuh dan terjebak di antara akar-akar pohon besar. Hasan dengan cepat membantu pria tua itu dan membawanya ke tempat yang aman.
Setelah berhasil menolongnya, Hasan mengantar pria tua itu pulang ke desanya. Pria tua tersebut sangat berterima kasih dan ingin memberikan hadiah kepada Hasan, namun Hasan menolak dengan sopan. la hanya tersenyum dan mengatakan bahwa menolong sesama adalah kewajiban kita sebagai manusia.
Mengapa Hasan menolak hadiah yang ditawarkan oleh pria tua yang ia selamatkan?
Hasan menolak hadiah dari pria tua yang diselamatkannya karena ia menganggap menolong orang lain adalah sebuah kewajiban yang tidak membutuhkan Imbalan. Hal ini disampaikan melalui dialognya yang menunjukkan ketulusan hatinya
Hasan menolak hadiah dari pria tua yang diselamatkannya karena ia menganggap menolong orang lain adalah sebuah kewajiban yang tidak membutuhkan Imbalan. Hal ini disampaikan melalui dialognya yang menunjukkan ketulusan hatinya
Pertanian hidroponik mulai menarik perhatian sebagai metode penanaman alternatif di tengah lahan pertanian yang semakin terbatas. Metode hidroponik memungkinkan tanaman tumbuh tanpa menggunakan tanah, melainkan dengan media air yang diperkaya nutrisi. Nutrisi yang terkandung dalam larutan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap tanaman, memungkinkan pertumbuhan yang lebih cepat dan hasil yang lebih optimal.
Pertanian hidroponik unggul dalam menghemat air dibandingkan dengan pertanian konvensional. Sistem hidroponik yang tertutup memungkinkan sirkulasi air yang efisien, sehingga mengurangi kebutuhan air secara signifikan. Selain itu, hidroponik dapat dilakukan di ruang tertutup seperti dalam gedung atau rumah kaca, menjadikannya solusi untuk pertanian di perkotaan.
Teknik ini membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi untuk peralatan dan sistem pengaturan nutrisi serta air. Selain itu, tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik memerlukan pemantauan intensif terhadap pH dan kadar nutrisi agar tetap optimal.
Beberapa negara telah mengembangkan kebijakan untuk mendukung pertanian hidroponik, termasuk subsidi untuk teknologi dan program pelatihan bagi para petani. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pertanian berkelanjutan dan mengatasi permasalahan keterbatasan lahan serta kebutuhan air di masa depan.
Berdasarkan teks di atas, salah satu kelebihan utama pertanian hidroponik adalah …..
Teks menjelaskan bahwa keunggulan utama dari pertanian hidroponik adalah efisiensi penggunaan air melalui sistem tertutup yang memungkinkan sirkulasi air secara efektif dan mengurangi kebutuhan air secara signifikan.
Teks menjelaskan bahwa keunggulan utama dari pertanian hidroponik adalah efisiensi penggunaan air melalui sistem tertutup yang memungkinkan sirkulasi air secara efektif dan mengurangi kebutuhan air secara signifikan.
Pertanian hidroponik mulai menarik perhatian sebagai metode penanaman alternatif di tengah lahan pertanian yang semakin terbatas. Metode hidroponik memungkinkan tanaman tumbuh tanpa menggunakan tanah, melainkan dengan media air yang diperkaya nutrisi. Nutrisi yang terkandung dalam larutan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap tanaman, memungkinkan pertumbuhan yang lebih cepat dan hasil yang lebih optimal.
Pertanian hidroponik unggul dalam menghemat air dibandingkan dengan pertanian konvensional. Sistem hidroponik yang tertutup memungkinkan sirkulasi air yang efisien, sehingga mengurangi kebutuhan air secara signifikan. Selain itu, hidroponik dapat dilakukan di ruang tertutup seperti dalam gedung atau rumah kaca, menjadikannya solusi untuk pertanian di perkotaan.
Teknik ini membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi untuk peralatan dan sistem pengaturan nutrisi serta air. Selain itu, tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik memerlukan pemantauan intensif terhadap pH dan kadar nutrisi agar tetap optimal.
Beberapa negara telah mengembangkan kebijakan untuk mendukung pertanian hidroponik, termasuk subsidi untuk teknologi dan program pelatihan bagi para petani. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pertanian berkelanjutan dan mengatasi permasalahan keterbatasan lahan serta kebutuhan air di masa depan.
Mengapa pertanian hidroponik dianggap cocok untuk daerah perkotaan?
Dalan teks, disebutkan bahwa hidroponik dapat diterapkan di ruang tertutup, seperti gedung atau rumah kaca, yang membuatnya cocok untuk daerah perkotaan dengan keterbatasan lahan
Dalan teks, disebutkan bahwa hidroponik dapat diterapkan di ruang tertutup, seperti gedung atau rumah kaca, yang membuatnya cocok untuk daerah perkotaan dengan keterbatasan lahan
Pertanian hidroponik mulai menarik perhatian sebagai metode penanaman alternatif di tengah lahan pertanian yang semakin terbatas. Metode hidroponik memungkinkan tanaman tumbuh tanpa menggunakan tanah, melainkan dengan media air yang diperkaya nutrisi. Nutrisi yang terkandung dalam larutan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap tanaman, memungkinkan pertumbuhan yang lebih cepat dan hasil yang lebih optimal.
Pertanian hidroponik unggul dalam menghemat air dibandingkan dengan pertanian konvensional. Sistem hidroponik yang tertutup memungkinkan sirkulasi air yang efisien, sehingga mengurangi kebutuhan air secara signifikan. Selain itu, hidroponik dapat dilakukan di ruang tertutup seperti dalam gedung atau rumah kaca, menjadikannya solusi untuk pertanian di perkotaan.
Teknik ini membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi untuk peralatan dan sistem pengaturan nutrisi serta air. Selain itu, tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik memerlukan pemantauan intensif terhadap pH dan kadar nutrisi agar tetap optimal.
Beberapa negara telah mengembangkan kebijakan untuk mendukung pertanian hidroponik, termasuk subsidi untuk teknologi dan program pelatihan bagi para petani. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pertanian berkelanjutan dan mengatasi permasalahan keterbatasan lahan serta kebutuhan air di masa depan.
Pernyataan di bawah ini yang merupakan opini penulis sesuai bacaan adalah ….
opini yang memberikan pandangan penulis mengenai keunggulan hidroponik sebagai solusi pertanian perkotaan, bukan fakta absolut
opini yang memberikan pandangan penulis mengenai keunggulan hidroponik sebagai solusi pertanian perkotaan, bukan fakta absolut
Pertanian hidroponik mulai menarik perhatian sebagai metode penanaman alternatif di tengah lahan pertanian yang semakin terbatas. Metode hidroponik memungkinkan tanaman tumbuh tanpa menggunakan tanah, melainkan dengan media air yang diperkaya nutrisi. Nutrisi yang terkandung dalam larutan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap tanaman, memungkinkan pertumbuhan yang lebih cepat dan hasil yang lebih optimal.
Pertanian hidroponik unggul dalam menghemat air dibandingkan dengan pertanian konvensional. Sistem hidroponik yang tertutup memungkinkan sirkulasi air yang efisien, sehingga mengurangi kebutuhan air secara signifikan. Selain itu, hidroponik dapat dilakukan di ruang tertutup seperti dalam gedung atau rumah kaca, menjadikannya solusi untuk pertanian di perkotaan.
Teknik ini membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi untuk peralatan dan sistem pengaturan nutrisi serta air. Selain itu, tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik memerlukan pemantauan intensif terhadap pH dan kadar nutrisi agar tetap optimal.
Beberapa negara telah mengembangkan kebijakan untuk mendukung pertanian hidroponik, termasuk subsidi untuk teknologi dan program pelatihan bagi para petani. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pertanian berkelanjutan dan mengatasi permasalahan keterbatasan lahan serta kebutuhan air di masa depan.
Apabila kamu adalah seorang ahli pertanian, langkah apa yang paling tepat untuk meningkatkan efektivitas pertanian hidroponik di Indonesia?
Langkah yang paling tepat untuk meningkatkan efektivitas pertanian hidroponik di Indonesia adalah melakukan penelitian untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air pada sistem hidroponik, karena sistem ini sangat bergantung pada penggunaan air yang optimal dan hemat, yang merupakan salah satu keunggulan utama hidroponik dibandingkan metode pertanian konvensional.
Langkah yang paling tepat untuk meningkatkan efektivitas pertanian hidroponik di Indonesia adalah melakukan penelitian untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air pada sistem hidroponik, karena sistem ini sangat bergantung pada penggunaan air yang optimal dan hemat, yang merupakan salah satu keunggulan utama hidroponik dibandingkan metode pertanian konvensional.
Polusi cahaya telah menjadi perhatian serius dalam beberapa dekade terakhir, terutama dengan peningkatan penggunaan lampu buatan di berbagai belahan dunia. Intensitas dan cakupan cahaya buatan meningkat setiap tahun, memperburuk masalah yang dikenal sebagai “pergeseran malam ke siang” bagi sebagian besar makhluk hidup yang bergantung pada siklus alami. Cahaya buatan yang berlebihan mengacaukan ritme sirkadian pada manusia dan hewan, dan mengganggu ekosistem yang bergantung pada kegelapan malam.
Salah satu kelompok hewan yang sangat terpengaruh oleh polusi cahaya adalah serangga malam, terutama kupu-kupu dan kunang-kunang. Serangga-serangga ini menggunakan kegelapan untuk bernavigasi, kawin, dan mencari makan. Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Universitas Exeter menunjukkan bahwa serangga di area yang tercemar cahaya mengalami penurunan populasi secara signifikan, akibat ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan yang semakin terang.
Efek lain dari polusi cahaya dapat dilihat pada burung- burung migran. Burung yang melakukan migrasi malam hari cenderung terbang menuju sumber cahaya buatan yang terang, menyebabkan kelelahan dan bahkan kematian akibat menabrak bangunan yang terang. Kota-kota besar seperti New York dan Toronto telah mulai mengurangi intensitas cahaya buatan pada malam hari selama musim migrasi untuk membantu melindungi burung-burung ini.
Beberapa negara mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak polusi cahaya. Misalnya, di Prancis, diterapkan aturan yang membatasi jam operasi lampu di gedung-gedung perkantoran dan fasilitas umum. Langkah serupa juga diterapkan di beberapa kota di Asia yang mulai memadamkan lampu jalan dan fasilitas umum selama jam-jam tertentu untuk mengurangi pencemaran cahaya.
Upaya lainnya adalah pengembangan teknologi lampu yang lebih ramah lingkungan, seperti lampu LED dengan spektrum cahaya yang disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas makhluk hidup malam. Dengan pengaturan warna dan intensitas yang tepat, lampu- lampu ini dapat membantu mengurangi dampak negatif polusi cahaya terhadap ekosistem sekaligus memberikan penerangan yang efisien bagi kebutuhan manusia.
Apa dampak utama yang dialami oleh serangga malam akibat polusi cahaya menurut teks?
Teks menjelaskan bahwa serangga malam, khususnya kupu-kupu dan kunang-kunang, mengalami penurunan populasi karena mereka kesulitan bernavigasi dan bereproduksi di area dengan cahaya buatan. Ini menjadi salah satu dampak utama dari polusi cahaya yang dihadapi oleh serangga tersebut.
Teks menjelaskan bahwa serangga malam, khususnya kupu-kupu dan kunang-kunang, mengalami penurunan populasi karena mereka kesulitan bernavigasi dan bereproduksi di area dengan cahaya buatan. Ini menjadi salah satu dampak utama dari polusi cahaya yang dihadapi oleh serangga tersebut.
Polusi cahaya telah menjadi perhatian serius dalam beberapa dekade terakhir, terutama dengan peningkatan penggunaan lampu buatan di berbagai belahan dunia. Intensitas dan cakupan cahaya buatan meningkat setiap tahun, memperburuk masalah yang dikenal sebagai “pergeseran malam ke siang” bagi sebagian besar makhluk hidup yang bergantung pada siklus alami. Cahaya buatan yang berlebihan mengacaukan ritme sirkadian pada manusia dan hewan, dan mengganggu ekosistem yang bergantung pada kegelapan malam.
Salah satu kelompok hewan yang sangat terpengaruh oleh polusi cahaya adalah serangga malam, terutama kupu-kupu dan kunang-kunang. Serangga-serangga ini menggunakan kegelapan untuk bernavigasi, kawin, dan mencari makan. Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Universitas Exeter menunjukkan bahwa serangga di area yang tercemar cahaya mengalami penurunan populasi secara signifikan, akibat ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan yang semakin terang.
Efek lain dari polusi cahaya dapat dilihat pada burung- burung migran. Burung yang melakukan migrasi malam hari cenderung terbang menuju sumber cahaya buatan yang terang, menyebabkan kelelahan dan bahkan kematian akibat menabrak bangunan yang terang. Kota-kota besar seperti New York dan Toronto telah mulai mengurangi intensitas cahaya buatan pada malam hari selama musim migrasi untuk membantu melindungi burung-burung ini.
Beberapa negara mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak polusi cahaya. Misalnya, di Prancis, diterapkan aturan yang membatasi jam operasi lampu di gedung-gedung perkantoran dan fasilitas umum. Langkah serupa juga diterapkan di beberapa kota di Asia yang mulai memadamkan lampu jalan dan fasilitas umum selama jam-jam tertentu untuk mengurangi pencemaran cahaya.
Upaya lainnya adalah pengembangan teknologi lampu yang lebih ramah lingkungan, seperti lampu LED dengan spektrum cahaya yang disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas makhluk hidup malam. Dengan pengaturan warna dan intensitas yang tepat, lampu- lampu ini dapat membantu mengurangi dampak negatif polusi cahaya terhadap ekosistem sekaligus memberikan penerangan yang efisien bagi kebutuhan manusia.
Berdasarkan teks, manakah upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi polusi cahaya di beberapa negara?
Teks menyebutkan bahwa di beberapa negara, termasuk Prancis, pemerintah menerapkan aturan untuk membatasi jam operasi lampu di gedung-gedung perkantoran sebagai upaya mengurangi polusi cahaya.
Teks menyebutkan bahwa di beberapa negara, termasuk Prancis, pemerintah menerapkan aturan untuk membatasi jam operasi lampu di gedung-gedung perkantoran sebagai upaya mengurangi polusi cahaya.
Polusi cahaya telah menjadi perhatian serius dalam beberapa dekade terakhir, terutama dengan peningkatan penggunaan lampu buatan di berbagai belahan dunia. Intensitas dan cakupan cahaya buatan meningkat setiap tahun, memperburuk masalah yang dikenal sebagai “pergeseran malam ke siang” bagi sebagian besar makhluk hidup yang bergantung pada siklus alami. Cahaya buatan yang berlebihan mengacaukan ritme sirkadian pada manusia dan hewan, dan mengganggu ekosistem yang bergantung pada kegelapan malam.
Salah satu kelompok hewan yang sangat terpengaruh oleh polusi cahaya adalah serangga malam, terutama kupu-kupu dan kunang-kunang. Serangga-serangga ini menggunakan kegelapan untuk bernavigasi, kawin, dan mencari makan. Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Universitas Exeter menunjukkan bahwa serangga di area yang tercemar cahaya mengalami penurunan populasi secara signifikan, akibat ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan yang semakin terang.
Efek lain dari polusi cahaya dapat dilihat pada burung- burung migran. Burung yang melakukan migrasi malam hari cenderung terbang menuju sumber cahaya buatan yang terang, menyebabkan kelelahan dan bahkan kematian akibat menabrak bangunan yang terang. Kota-kota besar seperti New York dan Toronto telah mulai mengurangi intensitas cahaya buatan pada malam hari selama musim migrasi untuk membantu melindungi burung-burung ini.
Beberapa negara mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak polusi cahaya. Misalnya, di Prancis, diterapkan aturan yang membatasi jam operasi lampu di gedung-gedung perkantoran dan fasilitas umum. Langkah serupa juga diterapkan di beberapa kota di Asia yang mulai memadamkan lampu jalan dan fasilitas umum selama jam-jam tertentu untuk mengurangi pencemaran cahaya.
Upaya lainnya adalah pengembangan teknologi lampu yang lebih ramah lingkungan, seperti lampu LED dengan spektrum cahaya yang disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas makhluk hidup malam. Dengan pengaturan warna dan intensitas yang tepat, lampu- lampu ini dapat membantu mengurangi dampak negatif polusi cahaya terhadap ekosistem sekaligus memberikan penerangan yang efisien bagi kebutuhan manusia.
Apa simpulan yang dapat diambil dari teks tersebut?
Simpulan dari teks adalah bahwa polusi cahaya memberikan dampak negatif terhadap ekosistem, dan perlu diambil langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan ini.
Simpulan dari teks adalah bahwa polusi cahaya memberikan dampak negatif terhadap ekosistem, dan perlu diambil langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan ini.
Fenilketonuria adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh mutasi pada gen PAH, yang bertanggung jawab dalam produksi enzim fenilalanin hidroksilase. Enzim ini penting dalam mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin, yang dibutuhkan untuk berbagai fungsi metabolisme tubuh. Pada individu dengan fenilketonuria, enzim ini tidak diproduksi dengan cukup, sehingga fenilalanin menumpuk dalam darah. Jika kadar fenilalanin terlalu tinggi, dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan perkembangan saraf. Kerusakan yang disebabkan oleh penumpukan fenilalanin bersifat irreversible jika tidak segera ditangani, karena metabolit toksik fenilalanin mengganggu fungsi otak dan sistem saraf.
Fenilketonuria merupakan kelainan genetik resesif autosomal, yang artinya seorang anak berisiko terkena kondisi ini hanya jika kedua orang tua memiliki gen pembawa mutasi. Dalam kasus seperti ini, risiko seorang anak untuk terkena fenilketonuria adalah 25%. Meskipun tergolong kelainan langka yang hanya terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 kelahiran, efeknya dapat sangat serius. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting. Bayi yang terdiagnosis dengan fenilketonuria segera disarankan untuk menjalani diet rendah fenilalanin, biasanya berupa pengurangan protein alami yang mengandung asam amino tersebut. Dengan penanganan dini dan disiplin, individu dengan fenilketonuria dapat menjalani kehidupan normal tanpa komplikasi neurologis yang signifikan.
Dalam bacaan di atas, terdapat pernyataan “Fenilketonuria merupakan kelainan genetik resesif autosomal, yang artinya seorang anak berisiko terkena kondisi ini hanya jika kedua orang tua memiliki gen pembawa mutasi.” Pernyataan berikut yang merupakan penjelas yang tepat atas pernyataan tersebut adalah…..
secara langsung menjelaskan bahwa fenilketonuria bersifat resesif autosomal, yaitu anak hanya akan memiliki kondisi tersebut jika menerima gen mutasi dari kedua orang tua.
Penyakit genetik resesif autosomal memerlukan dua salinan gen yang bermutasi (satu dari masing-masing orang tua) agar seseorang terkena penyakit tersebut. Jika hanya satu orang tua yang membawa mutasi, anak tidak akan terkena penyakit, tetapi bisa menjadi pembawa gen mutasi.
secara langsung menjelaskan bahwa fenilketonuria bersifat resesif autosomal, yaitu anak hanya akan memiliki kondisi tersebut jika menerima gen mutasi dari kedua orang tua.
Penyakit genetik resesif autosomal memerlukan dua salinan gen yang bermutasi (satu dari masing-masing orang tua) agar seseorang terkena penyakit tersebut. Jika hanya satu orang tua yang membawa mutasi, anak tidak akan terkena penyakit, tetapi bisa menjadi pembawa gen mutasi.
Fenilketonuria adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh mutasi pada gen PAH, yang bertanggung jawab dalam produksi enzim fenilalanin hidroksilase. Enzim ini penting dalam mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin, yang dibutuhkan untuk berbagai fungsi metabolisme tubuh. Pada individu dengan fenilketonuria, enzim ini tidak diproduksi dengan cukup, sehingga fenilalanin menumpuk dalam darah. Jika kadar fenilalanin terlalu tinggi, dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan perkembangan saraf. Kerusakan yang disebabkan oleh penumpukan fenilalanin bersifat irreversible jika tidak segera ditangani, karena metabolit toksik fenilalanin mengganggu fungsi otak dan sistem saraf.
Fenilketonuria merupakan kelainan genetik resesif autosomal, yang artinya seorang anak berisiko terkena kondisi ini hanya jika kedua orang tua memiliki gen pembawa mutasi. Dalam kasus seperti ini, risiko seorang anak untuk terkena fenilketonuria adalah 25%. Meskipun tergolong kelainan langka yang hanya terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 kelahiran, efeknya dapat sangat serius. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting. Bayi yang terdiagnosis dengan fenilketonuria segera disarankan untuk menjalani diet rendah fenilalanin, biasanya berupa pengurangan protein alami yang mengandung asam amino tersebut. Dengan penanganan dini dan disiplin, individu dengan fenilketonuria dapat menjalani kehidupan normal tanpa komplikasi neurologis yang signifikan.
Kekurangan objek bahasan dalam bacaan tersebut adalah…..
Bacaan tidak memberikan penjelasan mendalam mengenai metode diagnostik yang spesifik untuk mendeteksi fenilketonuria pada bayi, terutama tentang bagaimana pengujian untuk mendeteksi mutasi gen PAH dilakukan sejak lahir. Bacaan lebih fokus pada gambaran umum kondisi fenilketonuria, dampak yang ditimbulkan, dan pentingnya diet rendah fenilalanin.
Bacaan tidak memberikan penjelasan mendalam mengenai metode diagnostik yang spesifik untuk mendeteksi fenilketonuria pada bayi, terutama tentang bagaimana pengujian untuk mendeteksi mutasi gen PAH dilakukan sejak lahir. Bacaan lebih fokus pada gambaran umum kondisi fenilketonuria, dampak yang ditimbulkan, dan pentingnya diet rendah fenilalanin.
Fenilketonuria adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh mutasi pada gen PAH, yang bertanggung jawab dalam produksi enzim fenilalanin hidroksilase. Enzim ini penting dalam mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin, yang dibutuhkan untuk berbagai fungsi metabolisme tubuh. Pada individu dengan fenilketonuria, enzim ini tidak diproduksi dengan cukup, sehingga fenilalanin menumpuk dalam darah. Jika kadar fenilalanin terlalu tinggi, dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan perkembangan saraf. Kerusakan yang disebabkan oleh penumpukan fenilalanin bersifat irreversible jika tidak segera ditangani, karena metabolit toksik fenilalanin mengganggu fungsi otak dan sistem saraf.
Fenilketonuria merupakan kelainan genetik resesif autosomal, yang artinya seorang anak berisiko terkena kondisi ini hanya jika kedua orang tua memiliki gen pembawa mutasi. Dalam kasus seperti ini, risiko seorang anak untuk terkena fenilketonuria adalah 25%. Meskipun tergolong kelainan langka yang hanya terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 kelahiran, efeknya dapat sangat serius. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting. Bayi yang terdiagnosis dengan fenilketonuria segera disarankan untuk menjalani diet rendah fenilalanin, biasanya berupa pengurangan protein alami yang mengandung asam amino tersebut. Dengan penanganan dini dan disiplin, individu dengan fenilketonuria dapat menjalani kehidupan normal tanpa komplikasi neurologis yang signifikan.
Dalam bacaan tersebut tersirat bahwa ….
Tersirat dalam bacaan bahwa pengendalian penumpukan fenilalanin yang berlebihan sangat bergantung pada deteksi dini (saat lahir) dan penerapan diet rendah fenilalanin untuk mencegah dampak kerusakan otak.
Bacaan tidak menyebutkan bahwa semua penderita akan mengalami gangguan perkembangan saraf jika terdiagnosis dan menjalani diet sejak dini
Tersirat dalam bacaan bahwa pengendalian penumpukan fenilalanin yang berlebihan sangat bergantung pada deteksi dini (saat lahir) dan penerapan diet rendah fenilalanin untuk mencegah dampak kerusakan otak.
Bacaan tidak menyebutkan bahwa semua penderita akan mengalami gangguan perkembangan saraf jika terdiagnosis dan menjalani diet sejak dini
Fenilketonuria adalah kelainan genetik yang disebabkan oleh mutasi pada gen PAH, yang bertanggung jawab dalam produksi enzim fenilalanin hidroksilase. Enzim ini penting dalam mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin, yang dibutuhkan untuk berbagai fungsi metabolisme tubuh. Pada individu dengan fenilketonuria, enzim ini tidak diproduksi dengan cukup, sehingga fenilalanin menumpuk dalam darah. Jika kadar fenilalanin terlalu tinggi, dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan perkembangan saraf. Kerusakan yang disebabkan oleh penumpukan fenilalanin bersifat irreversible jika tidak segera ditangani, karena metabolit toksik fenilalanin mengganggu fungsi otak dan sistem saraf.
Fenilketonuria merupakan kelainan genetik resesif autosomal, yang artinya seorang anak berisiko terkena kondisi ini hanya jika kedua orang tua memiliki gen pembawa mutasi. Dalam kasus seperti ini, risiko seorang anak untuk terkena fenilketonuria adalah 25%. Meskipun tergolong kelainan langka yang hanya terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 kelahiran, efeknya dapat sangat serius. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting. Bayi yang terdiagnosis dengan fenilketonuria segera disarankan untuk menjalani diet rendah fenilalanin, biasanya berupa pengurangan protein alami yang mengandung asam amino tersebut. Dengan penanganan dini dan disiplin, individu dengan fenilketonuria dapat menjalani kehidupan normal tanpa komplikasi neurologis yang signifikan.
Untuk melengkapi teks tersebut, data berikut yang tepat untuk dicantumkan pada paragraf pertama adalah…..
Untuk memperkaya informasi pada paragraf pertama, data tentang penemuan dan pemetaan gen PAH serta perannya dalam metabolisme fenilalanin akan membantu pembaca memahami dasar biologis fenilketonuria. Ini akan memberikan konteks tentang penyebab genetik dari kondisi tersebut.
Untuk memperkaya informasi pada paragraf pertama, data tentang penemuan dan pemetaan gen PAH serta perannya dalam metabolisme fenilalanin akan membantu pembaca memahami dasar biologis fenilketonuria. Ini akan memberikan konteks tentang penyebab genetik dari kondisi tersebut.
(1) Pada masa kolonial, seni lukis berfungsi lebih dari sekadar media ekspresi; ia menjadi simbol perlawanan dan identitas budaya lokal. (2) Seniman-seniman lokal menggunakan karya mereka untuk menyampaikan pesan- pesan yang berlawanan dengan gagasan kolonialisme. (3) Dengan goresan yang sarat simbolik, lukisan-lukisan ini menghidupkan semangat nasionalisme di antara masyarakat pribumi yang menghadap tekanan penjajah.
(4) Dalam karyanya, sejarahwan seni lukis, Ratna Sari, menjelaskan bahwa seni lukis yang menggambarkan unsur-unsur lokal mulai muncul pada awal abad ke-20.
(5) la mencatat bahwa lukisan-lukisan ini menampilkan elemen-elemen seperti pemandangan alam Indonesia, budaya, dan keseharian rakyat. (6) Unsur-unsur ini kemudian digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan identitas bangsa di tengah-tengah penjajahan. (7) Seniman-seniman tersebut, walaupun dalam keterbatasan, tetap menghasilkan karya yang membangkitkan semangat persatuan.
(8) Dalam prosesnya, bentuk perlawanan melalui seni lukis juga merambah ruang-ruang publik yang sering dilewati penjajah, seperti kantor pemerintahan kolonial dan bangunan-bangunan strategis. (9) Penggunaan lukisan sebagai sarana perlawanan ini dimaksudkan agar pesan tentang kebebasan tersebar luas dan memotivasi masyarakat untuk melawan penindasan.
(10) Ratna menyebut bahwa seni lukis pada masa kolonial tidak sekadar mengkritik secara simbolik tetapi juga menggambarkan harapan akan kemerdekaan. (11) Melalui lukisan-lukisan ini, seniman-seniman ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah hak yang patut diperjuangkan. (12) Karya-karya ini memperlihatkan semangat melawan dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka. (13) Pada akhirnya, seni lukis masa kolonial menjadi bagian tak terpisahkan dari pergerakan nasional dan menjadi alat komunikasi efektif untuk menyuarakan kepentingan rakyat. (14) Melalui lukisan-lukisan tersebut, terlihat bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya berbentuk fisik, melainkan juga melalui ekspresi seni yang mengobarkan semangat kebangsaan.
Berdasarkan isi teks, secara umum pembahasan yang disampaikan adalah tentang …..
Teks tersebut menjelaskan tentang peran seni lukis dalam menyampaikan perlawanan terhadap penjajah dan memupuk semangat nasionalisme melalui karya-karya seniman lokal. Pilihan C mencerminkan inti utama teks, yang menyoroti fungsi seni lukis sebagai media perlawanan terhadap kolonialisme.
Teks tersebut menjelaskan tentang peran seni lukis dalam menyampaikan perlawanan terhadap penjajah dan memupuk semangat nasionalisme melalui karya-karya seniman lokal. Pilihan C mencerminkan inti utama teks, yang menyoroti fungsi seni lukis sebagai media perlawanan terhadap kolonialisme.
(1) Pada masa kolonial, seni lukis berfungsi lebih dari sekadar media ekspresi; ia menjadi simbol perlawanan dan identitas budaya lokal. (2) Seniman-seniman lokal menggunakan karya mereka untuk menyampaikan pesan- pesan yang berlawanan dengan gagasan kolonialisme. (3) Dengan goresan yang sarat simbolik, lukisan-lukisan ini menghidupkan semangat nasionalisme di antara masyarakat pribumi yang menghadap tekanan penjajah.
(4) Dalam karyanya, sejarahwan seni lukis, Ratna Sari, menjelaskan bahwa seni lukis yang menggambarkan unsur-unsur lokal mulai muncul pada awal abad ke-20.
(5) la mencatat bahwa lukisan-lukisan ini menampilkan elemen-elemen seperti pemandangan alam Indonesia, budaya, dan keseharian rakyat. (6) Unsur-unsur ini kemudian digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan identitas bangsa di tengah-tengah penjajahan. (7) Seniman-seniman tersebut, walaupun dalam keterbatasan, tetap menghasilkan karya yang membangkitkan semangat persatuan.
(8) Dalam prosesnya, bentuk perlawanan melalui seni lukis juga merambah ruang-ruang publik yang sering dilewati penjajah, seperti kantor pemerintahan kolonial dan bangunan-bangunan strategis. (9) Penggunaan lukisan sebagai sarana perlawanan ini dimaksudkan agar pesan tentang kebebasan tersebar luas dan memotivasi masyarakat untuk melawan penindasan.
(10) Ratna menyebut bahwa seni lukis pada masa kolonial tidak sekadar mengkritik secara simbolik tetapi juga menggambarkan harapan akan kemerdekaan. (11) Melalui lukisan-lukisan ini, seniman-seniman ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah hak yang patut diperjuangkan. (12) Karya-karya ini memperlihatkan semangat melawan dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka. (13) Pada akhirnya, seni lukis masa kolonial menjadi bagian tak terpisahkan dari pergerakan nasional dan menjadi alat komunikasi efektif untuk menyuarakan kepentingan rakyat. (14) Melalui lukisan-lukisan tersebut, terlihat bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya berbentuk fisik, melainkan juga melalui ekspresi seni yang mengobarkan semangat kebangsaan.
Berdasarkan penjelasan Ratna Sari pada paragraf kedua, dapat disimpulkan bahwa ….
Ratna Sari menjelaskan bahwa seniman pada masa itu mengangkat elemen-elemen lokal seperti budaya, pemandangan alam, dan keseharian rakyat dalam karya mereka. Hal ini bertujuan untuk memperkuat identitas nasional di tengah penjajahan.
Ratna Sari menjelaskan bahwa seniman pada masa itu mengangkat elemen-elemen lokal seperti budaya, pemandangan alam, dan keseharian rakyat dalam karya mereka. Hal ini bertujuan untuk memperkuat identitas nasional di tengah penjajahan.
(1) Pada masa kolonial, seni lukis berfungsi lebih dari sekadar media ekspresi; ia menjadi simbol perlawanan dan identitas budaya lokal. (2) Seniman-seniman lokal menggunakan karya mereka untuk menyampaikan pesan- pesan yang berlawanan dengan gagasan kolonialisme. (3) Dengan goresan yang sarat simbolik, lukisan-lukisan ini menghidupkan semangat nasionalisme di antara masyarakat pribumi yang menghadap tekanan penjajah.
(4) Dalam karyanya, sejarahwan seni lukis, Ratna Sari, menjelaskan bahwa seni lukis yang menggambarkan unsur-unsur lokal mulai muncul pada awal abad ke-20.
(5) la mencatat bahwa lukisan-lukisan ini menampilkan elemen-elemen seperti pemandangan alam Indonesia, budaya, dan keseharian rakyat. (6) Unsur-unsur ini kemudian digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan identitas bangsa di tengah-tengah penjajahan. (7) Seniman-seniman tersebut, walaupun dalam keterbatasan, tetap menghasilkan karya yang membangkitkan semangat persatuan.
(8) Dalam prosesnya, bentuk perlawanan melalui seni lukis juga merambah ruang-ruang publik yang sering dilewati penjajah, seperti kantor pemerintahan kolonial dan bangunan-bangunan strategis. (9) Penggunaan lukisan sebagai sarana perlawanan ini dimaksudkan agar pesan tentang kebebasan tersebar luas dan memotivasi masyarakat untuk melawan penindasan.
(10) Ratna menyebut bahwa seni lukis pada masa kolonial tidak sekadar mengkritik secara simbolik tetapi juga menggambarkan harapan akan kemerdekaan. (11) Melalui lukisan-lukisan ini, seniman-seniman ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah hak yang patut diperjuangkan. (12) Karya-karya ini memperlihatkan semangat melawan dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka. (13) Pada akhirnya, seni lukis masa kolonial menjadi bagian tak terpisahkan dari pergerakan nasional dan menjadi alat komunikasi efektif untuk menyuarakan kepentingan rakyat. (14) Melalui lukisan-lukisan tersebut, terlihat bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya berbentuk fisik, melainkan juga melalui ekspresi seni yang mengobarkan semangat kebangsaan.
Pernyataan yang tidak sesuai dengan bacaan di atas adalah….
Teks tidak menyebutkan bahwa “seniman kolonial” bekerja di ruang publik untuk menginspirasi masyarakat, melainkan seniman lokal Indonesia yang memanfaatkan ruang publik untuk menyampaikan pesan perlawanan.
Teks tidak menyebutkan bahwa “seniman kolonial” bekerja di ruang publik untuk menginspirasi masyarakat, melainkan seniman lokal Indonesia yang memanfaatkan ruang publik untuk menyampaikan pesan perlawanan.
(1) Pada masa kolonial, seni lukis berfungsi lebih dari sekadar media ekspresi; ia menjadi simbol perlawanan dan identitas budaya lokal. (2) Seniman-seniman lokal menggunakan karya mereka untuk menyampaikan pesan- pesan yang berlawanan dengan gagasan kolonialisme. (3) Dengan goresan yang sarat simbolik, lukisan-lukisan ini menghidupkan semangat nasionalisme di antara masyarakat pribumi yang menghadap tekanan penjajah.
(4) Dalam karyanya, sejarahwan seni lukis, Ratna Sari, menjelaskan bahwa seni lukis yang menggambarkan unsur-unsur lokal mulai muncul pada awal abad ke-20.
(5) la mencatat bahwa lukisan-lukisan ini menampilkan elemen-elemen seperti pemandangan alam Indonesia, budaya, dan keseharian rakyat. (6) Unsur-unsur ini kemudian digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan identitas bangsa di tengah-tengah penjajahan. (7) Seniman-seniman tersebut, walaupun dalam keterbatasan, tetap menghasilkan karya yang membangkitkan semangat persatuan.
(8) Dalam prosesnya, bentuk perlawanan melalui seni lukis juga merambah ruang-ruang publik yang sering dilewati penjajah, seperti kantor pemerintahan kolonial dan bangunan-bangunan strategis. (9) Penggunaan lukisan sebagai sarana perlawanan ini dimaksudkan agar pesan tentang kebebasan tersebar luas dan memotivasi masyarakat untuk melawan penindasan.
(10) Ratna menyebut bahwa seni lukis pada masa kolonial tidak sekadar mengkritik secara simbolik tetapi juga menggambarkan harapan akan kemerdekaan. (11) Melalui lukisan-lukisan ini, seniman-seniman ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah hak yang patut diperjuangkan. (12) Karya-karya ini memperlihatkan semangat melawan dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan mereka. (13) Pada akhirnya, seni lukis masa kolonial menjadi bagian tak terpisahkan dari pergerakan nasional dan menjadi alat komunikasi efektif untuk menyuarakan kepentingan rakyat. (14) Melalui lukisan-lukisan tersebut, terlihat bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya berbentuk fisik, melainkan juga melalui ekspresi seni yang mengobarkan semangat kebangsaan.
Apa yang membuat Ratna Sari menyimpulkan bahwa seni lukis memiliki pengaruh signifikan pada masa kolonial?
Ratna Sari menyebutkan bahwa seni lukis pada masa kolonial membawa pesan-pesan perlawanan dan harapan akan kemerdekaan. Karya-karya tersebut juga berperan penting dalam memotivasi generasi muda untuk meneruskan perjuangan.
Ratna Sari menyebutkan bahwa seni lukis pada masa kolonial membawa pesan-pesan perlawanan dan harapan akan kemerdekaan. Karya-karya tersebut juga berperan penting dalam memotivasi generasi muda untuk meneruskan perjuangan.
Perubahan iklim merupakan isu global yang semakin mendesak untuk ditangani. Perubahan ini terjadi akibat peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan industri. Efek dari perubahan iklim dapat terlihat dalam bentuk kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, dan peningkatan frekuensi bencana alam.
Dampak negatif perubahan iklim sangat luas, mulai dari hilangnya biodiversitas, penurunan hasil pertanian, hingga ancaman bagi keselamatan manusia. Negara-negara di seluruh dunia berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara, seperti beralih ke energi terbarukan,memperbaiki sistem transportasi, dan menerapkan regulasi yang ketat terhadap emisi karbon.
Namun, ada juga anggapan bahwa upaya untuk mengatasi perubahan iklim terkadang terasa lambat dan tidak memadai. Sebagian orang percaya bahwa tindakan individual, meskipun penting, tidak cukup untuk mengimbangi dampak besar yang dihasilkan oleh industri dan pemerintah. (….)
Maksud dari kalimat “Ada anggapan bahwa upaya untuk mengatasi perubahan iklim terkadang terasa lambat dan tidak memadai” pada teks di atas sama dengan pernyataan pada kalimat…..
mencerminkan esensi dari kalimat yang ada, yaitu bahwa ada perasaan kekhawatiran akan langkah-langkah yang diambil dalam menghadapi perubahan iklim yang dianggap tidak cukup cepat.
mencerminkan esensi dari kalimat yang ada, yaitu bahwa ada perasaan kekhawatiran akan langkah-langkah yang diambil dalam menghadapi perubahan iklim yang dianggap tidak cukup cepat.
Perubahan iklim merupakan isu global yang semakin mendesak untuk ditangani. Perubahan ini terjadi akibat peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan industri. Efek dari perubahan iklim dapat terlihat dalam bentuk kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, dan peningkatan frekuensi bencana alam.
Dampak negatif perubahan iklim sangat luas, mulai dari hilangnya biodiversitas, penurunan hasil pertanian, hingga ancaman bagi keselamatan manusia. Negara-negara di seluruh dunia berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara, seperti beralih ke energi terbarukan,memperbaiki sistem transportasi, dan menerapkan regulasi yang ketat terhadap emisi karbon.
Namun, ada juga anggapan bahwa upaya untuk mengatasi perubahan iklim terkadang terasa lambat dan tidak memadai. Sebagian orang percaya bahwa tindakan individual, meskipun penting, tidak cukup untuk mengimbangi dampak besar yang dihasilkan oleh industri dan pemerintah. (….)
Inti teks di atas membicarakan tentang…..
inti dari teks karena teks menggambarkan upaya yang dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim oleh negara-negara di dunia.
inti dari teks karena teks menggambarkan upaya yang dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim oleh negara-negara di dunia.
Perubahan iklim merupakan isu global yang semakin mendesak untuk ditangani. Perubahan ini terjadi akibat peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan industri. Efek dari perubahan iklim dapat terlihat dalam bentuk kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, dan peningkatan frekuensi bencana alam.
Dampak negatif perubahan iklim sangat luas, mulai dari hilangnya biodiversitas, penurunan hasil pertanian, hingga ancaman bagi keselamatan manusia. Negara-negara di seluruh dunia berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara, seperti beralih ke energi terbarukan,memperbaiki sistem transportasi, dan menerapkan regulasi yang ketat terhadap emisi karbon.
Namun, ada juga anggapan bahwa upaya untuk mengatasi perubahan iklim terkadang terasa lambat dan tidak memadai. Sebagian orang percaya bahwa tindakan individual, meskipun penting, tidak cukup untuk mengimbangi dampak besar yang dihasilkan oleh industri dan pemerintah. (….)
Kalimat berikut yang tepat untuk melengkapi kalimat terakhir pada paragraf di atas adalah…..
paling tepat melengkapi kalimat terakhir, memperkuat urgensi dalam tindakan untuk mengatasi masalah perubahan iklim.
paling tepat melengkapi kalimat terakhir, memperkuat urgensi dalam tindakan untuk mengatasi masalah perubahan iklim.
Puluhan layang-layang yang berada di atas kepalaku terlihat seperti rangkaian burung yang sedang bermigrasi. Angin pantai yang berhembus kencang membuat mereka terbang lebih jauh dan tinggi, tapi tetap di bawah kendali kekangan tali kenur. Aku ingin seperti layang-layang. Walau beberapa orang yang kukenal mengatakan, hidup seperti layang-layang tidak sepenuhnya bebas. Sekilas terlihat bebas, tapi sebuah tali tipis namun kuat mengaturnya.
Tapi aku tetap ingin menjadi layang-layang yang terbang tinggi di langit Pangandaran yang cerah ini.
Aku melihat sekeliling, pertengahan bulan Juli memang puncak liburan di mana-mana. Banyak wisatawan asing yang sedang bermain di Pantai Selatan ini. Entah itu bermain layang-layang atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan Pantai Pangandaran yang cerah ini. Aku sendiri sedang duduk di depan kios Uwak Imas yang berjualan pakaian.
Bau amis khas laut (dan juga karena pabrik ikan asin yang tidak jauh dari tempatku sekarang) sudah menjadi udara sehari-hari yang kuhirup. Sinar matahari yang terik menyentuh kulitku dengan ganas, tapi aku tetap bertahan duduk di luar kios. Pasalnya, Uwak Imas tengah sibuk melayani turis asing yang ingin membeli dagangannya. Aku tidak mau masuk, karena pasti Uwak Imas akan menyuruhku untuk melayani turis-turis itu, walaupun dia tahu kalau aku hanya bisa “yes” dan “no”.
Ketika aku mengalihkan pandangan dari layang- layang, aku melihat Bapak dan tiga orang lainnya berada di bibir pantai, bersiap untuk berlayar. Seingatku, Bapak sudah berlayar tadi malam, dan baru kembali tadi subuh. Kenapa sekarang mereka siap-siap ingin berlayar lagi? Apa tiba-tiba radar di kapal milik Haji Miun menangkap segerombolan ikan tuna di tengah laut sana? Eiy … itu pemikiran bodoh! Satu-satunya alat canggih yang mereka gunakan adalah naluri nelayan mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Kakiku bergerak ke arah mereka. Angin berhembus sangat keras di telingaku. Dibesarkan di pesisir pantai membuat aku memiliki ketakutan yang berbeda dari orang lain. Di saat orang lain ketakutan melihat keluarganya terombang-ambing ombak, aku merasakan hal yang jauh daripada itu. Aku takut membenci laut. Aku takut jika laut yang selama ini kuanggap teman, berbalik menjadi musuhku dan melenyapkan segala yang kucintai. Bagiku laut adalah rumah, dan rumahku adalah laut.
Saat aku sudah berada dekat dengan bibir pantai, Bapak melambai padaku sambil tersenyum. Kulitnya hitam karena terbakar matahari, rambutnya sudah memudar, bukan karena uban tapi karena sering terkena air laut. Bapakku masih terlihat segar, meski wajahnya sudah dipenuhi keriput.
Mata Bapak yang berwarna hitam pekat tampak bercahaya saat melihatku, seperti air laut yang memantulkan sinar matahari. Aku selalu suka Bapak yang tersenyum seperti itu, tapi entah kenapa kakiku bergetar melihat Beliau sekarang.
“Bapak bade ka laut deui (Bapak mau ngelaut lagi)?”
Bapak meletakkan jaring yang baru selesai ia rapikan ke dalam perahu. “Sanes, Jang. Iyeu Pak Sudir ngajak museup, mempeung cuacana sae (Enggak, Jang. Ini Pak Sudir ngajak mancing, mumpung cerah katanya).”
“Ujang bade ngiring moal (Ujang mau ikut juga)?”
Sejenak aku ragu dengan ajakan Pak Sudir itu. Tidak, bukannya aku takut laut, hanya saja… seperti ada yang mengganjal di hatiku. Jujur saja, perasaan seperti ini sudah sangat sering kurasakan, terutama saat melihat Bapak pergi berlayar tengah malam. Tapi tetap saja aku merasa asing dengan rasa takut ini. Seperti perahu di tengah badai, di tengah laut.
“Ah… atos wae, atuh maneh jaga kios Uwak bae lah (udah, kamu jagain kios Uwak-mu sana).”
Aku tidak bisa menjawab kata-kata terakhir Bapak sebelum Beliau naik ke atas perahu dan berlayar bersama tiga orang pria lainnya. Rasanya… sama seperti melihat Ibu meninggalkan rumah di hari itu. Umurku saat itu sudah menginjak dua belas tahun, cukup mengerti tentang situasi macam itu. Dan sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagi untuk Ibu, karena air mata ini tidak cukup untuk membawanya kembali.
Tapi, apakah aku harus menangis hari ini? Untuk membuat perahu yang ditumpangi Bapak berbalik lagi?
Hari semakin sore, matahari pun sudah tidak seterik sebelumnya. Meski kekhawatiran itu masih ada, aku beranjak dari bebatuan dan kembali ke kios Uwak Imas. Begitu aku sampai di sana, Uwak Imas langsung menyambutku dengan semprotan mulut bawelnya. Aku hanya nyengir, tidak mau melawan sekaligus menutupi kekhawatiranku. Aku baru akan merasa lega kalau sudah melihat Bapak kembali.
Konflik yang terjadi pada teks di atas adalah…..
Dalam teks, penulis mengungkapkan ketakutannya terhadap laut dan bagaimana laut yang seharusnya menjadi teman bisa berbalik menjadi musuh. Ini merupakan konflik batin yang dihadapi penulis, terutama saat melihat Bapaknya berlayar.
Dalam teks, penulis mengungkapkan ketakutannya terhadap laut dan bagaimana laut yang seharusnya menjadi teman bisa berbalik menjadi musuh. Ini merupakan konflik batin yang dihadapi penulis, terutama saat melihat Bapaknya berlayar.
Puluhan layang-layang yang berada di atas kepalaku terlihat seperti rangkaian burung yang sedang bermigrasi. Angin pantai yang berhembus kencang membuat mereka terbang lebih jauh dan tinggi, tapi tetap di bawah kendali kekangan tali kenur. Aku ingin seperti layang-layang. Walau beberapa orang yang kukenal mengatakan, hidup seperti layang-layang tidak sepenuhnya bebas. Sekilas terlihat bebas, tapi sebuah tali tipis namun kuat mengaturnya.
Tapi aku tetap ingin menjadi layang-layang yang terbang tinggi di langit Pangandaran yang cerah ini.
Aku melihat sekeliling, pertengahan bulan Juli memang puncak liburan di mana-mana. Banyak wisatawan asing yang sedang bermain di Pantai Selatan ini. Entah itu bermain layang-layang atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan Pantai Pangandaran yang cerah ini. Aku sendiri sedang duduk di depan kios Uwak Imas yang berjualan pakaian.
Bau amis khas laut (dan juga karena pabrik ikan asin yang tidak jauh dari tempatku sekarang) sudah menjadi udara sehari-hari yang kuhirup. Sinar matahari yang terik menyentuh kulitku dengan ganas, tapi aku tetap bertahan duduk di luar kios. Pasalnya, Uwak Imas tengah sibuk melayani turis asing yang ingin membeli dagangannya. Aku tidak mau masuk, karena pasti Uwak Imas akan menyuruhku untuk melayani turis-turis itu, walaupun dia tahu kalau aku hanya bisa “yes” dan “no”.
Ketika aku mengalihkan pandangan dari layang- layang, aku melihat Bapak dan tiga orang lainnya berada di bibir pantai, bersiap untuk berlayar. Seingatku, Bapak sudah berlayar tadi malam, dan baru kembali tadi subuh. Kenapa sekarang mereka siap-siap ingin berlayar lagi? Apa tiba-tiba radar di kapal milik Haji Miun menangkap segerombolan ikan tuna di tengah laut sana? Eiy … itu pemikiran bodoh! Satu-satunya alat canggih yang mereka gunakan adalah naluri nelayan mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Kakiku bergerak ke arah mereka. Angin berhembus sangat keras di telingaku. Dibesarkan di pesisir pantai membuat aku memiliki ketakutan yang berbeda dari orang lain. Di saat orang lain ketakutan melihat keluarganya terombang-ambing ombak, aku merasakan hal yang jauh daripada itu. Aku takut membenci laut. Aku takut jika laut yang selama ini kuanggap teman, berbalik menjadi musuhku dan melenyapkan segala yang kucintai. Bagiku laut adalah rumah, dan rumahku adalah laut.
Saat aku sudah berada dekat dengan bibir pantai, Bapak melambai padaku sambil tersenyum. Kulitnya hitam karena terbakar matahari, rambutnya sudah memudar, bukan karena uban tapi karena sering terkena air laut. Bapakku masih terlihat segar, meski wajahnya sudah dipenuhi keriput.
Mata Bapak yang berwarna hitam pekat tampak bercahaya saat melihatku, seperti air laut yang memantulkan sinar matahari. Aku selalu suka Bapak yang tersenyum seperti itu, tapi entah kenapa kakiku bergetar melihat Beliau sekarang.
“Bapak bade ka laut deui (Bapak mau ngelaut lagi)?”
Bapak meletakkan jaring yang baru selesai ia rapikan ke dalam perahu. “Sanes, Jang. Iyeu Pak Sudir ngajak museup, mempeung cuacana sae (Enggak, Jang. Ini Pak Sudir ngajak mancing, mumpung cerah katanya).”
“Ujang bade ngiring moal (Ujang mau ikut juga)?”
Sejenak aku ragu dengan ajakan Pak Sudir itu. Tidak, bukannya aku takut laut, hanya saja… seperti ada yang mengganjal di hatiku. Jujur saja, perasaan seperti ini sudah sangat sering kurasakan, terutama saat melihat Bapak pergi berlayar tengah malam. Tapi tetap saja aku merasa asing dengan rasa takut ini. Seperti perahu di tengah badai, di tengah laut.
“Ah… atos wae, atuh maneh jaga kios Uwak bae lah (udah, kamu jagain kios Uwak-mu sana).”
Aku tidak bisa menjawab kata-kata terakhir Bapak sebelum Beliau naik ke atas perahu dan berlayar bersama tiga orang pria lainnya. Rasanya… sama seperti melihat Ibu meninggalkan rumah di hari itu. Umurku saat itu sudah menginjak dua belas tahun, cukup mengerti tentang situasi macam itu. Dan sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagi untuk Ibu, karena air mata ini tidak cukup untuk membawanya kembali.
Tapi, apakah aku harus menangis hari ini? Untuk membuat perahu yang ditumpangi Bapak berbalik lagi?
Hari semakin sore, matahari pun sudah tidak seterik sebelumnya. Meski kekhawatiran itu masih ada, aku beranjak dari bebatuan dan kembali ke kios Uwak Imas. Begitu aku sampai di sana, Uwak Imas langsung menyambutku dengan semprotan mulut bawelnya. Aku hanya nyengir, tidak mau melawan sekaligus menutupi kekhawatiranku. Aku baru akan merasa lega kalau sudah melihat Bapak kembali.
Pernyataan berikut berhubungan, baik secara eksplisit dan implisit dengan bacaan di atas kecuali ….
Dalam teks, penulis justru merasa khawatir dan cemas ketika Bapaknya berlayar, bukan merasa tenang. Semua pilihan lain menunjukkan hubungan dengan perasaan penulis yang terekam dalam teks.
Dalam teks, penulis justru merasa khawatir dan cemas ketika Bapaknya berlayar, bukan merasa tenang. Semua pilihan lain menunjukkan hubungan dengan perasaan penulis yang terekam dalam teks.
Puluhan layang-layang yang berada di atas kepalaku terlihat seperti rangkaian burung yang sedang bermigrasi. Angin pantai yang berhembus kencang membuat mereka terbang lebih jauh dan tinggi, tapi tetap di bawah kendali kekangan tali kenur. Aku ingin seperti layang-layang. Walau beberapa orang yang kukenal mengatakan, hidup seperti layang-layang tidak sepenuhnya bebas. Sekilas terlihat bebas, tapi sebuah tali tipis namun kuat mengaturnya.
Tapi aku tetap ingin menjadi layang-layang yang terbang tinggi di langit Pangandaran yang cerah ini.
Aku melihat sekeliling, pertengahan bulan Juli memang puncak liburan di mana-mana. Banyak wisatawan asing yang sedang bermain di Pantai Selatan ini. Entah itu bermain layang-layang atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan Pantai Pangandaran yang cerah ini. Aku sendiri sedang duduk di depan kios Uwak Imas yang berjualan pakaian.
Bau amis khas laut (dan juga karena pabrik ikan asin yang tidak jauh dari tempatku sekarang) sudah menjadi udara sehari-hari yang kuhirup. Sinar matahari yang terik menyentuh kulitku dengan ganas, tapi aku tetap bertahan duduk di luar kios. Pasalnya, Uwak Imas tengah sibuk melayani turis asing yang ingin membeli dagangannya. Aku tidak mau masuk, karena pasti Uwak Imas akan menyuruhku untuk melayani turis-turis itu, walaupun dia tahu kalau aku hanya bisa “yes” dan “no”.
Ketika aku mengalihkan pandangan dari layang- layang, aku melihat Bapak dan tiga orang lainnya berada di bibir pantai, bersiap untuk berlayar. Seingatku, Bapak sudah berlayar tadi malam, dan baru kembali tadi subuh. Kenapa sekarang mereka siap-siap ingin berlayar lagi? Apa tiba-tiba radar di kapal milik Haji Miun menangkap segerombolan ikan tuna di tengah laut sana? Eiy … itu pemikiran bodoh! Satu-satunya alat canggih yang mereka gunakan adalah naluri nelayan mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Kakiku bergerak ke arah mereka. Angin berhembus sangat keras di telingaku. Dibesarkan di pesisir pantai membuat aku memiliki ketakutan yang berbeda dari orang lain. Di saat orang lain ketakutan melihat keluarganya terombang-ambing ombak, aku merasakan hal yang jauh daripada itu. Aku takut membenci laut. Aku takut jika laut yang selama ini kuanggap teman, berbalik menjadi musuhku dan melenyapkan segala yang kucintai. Bagiku laut adalah rumah, dan rumahku adalah laut.
Saat aku sudah berada dekat dengan bibir pantai, Bapak melambai padaku sambil tersenyum. Kulitnya hitam karena terbakar matahari, rambutnya sudah memudar, bukan karena uban tapi karena sering terkena air laut. Bapakku masih terlihat segar, meski wajahnya sudah dipenuhi keriput.
Mata Bapak yang berwarna hitam pekat tampak bercahaya saat melihatku, seperti air laut yang memantulkan sinar matahari. Aku selalu suka Bapak yang tersenyum seperti itu, tapi entah kenapa kakiku bergetar melihat Beliau sekarang.
“Bapak bade ka laut deui (Bapak mau ngelaut lagi)?”
Bapak meletakkan jaring yang baru selesai ia rapikan ke dalam perahu. “Sanes, Jang. Iyeu Pak Sudir ngajak museup, mempeung cuacana sae (Enggak, Jang. Ini Pak Sudir ngajak mancing, mumpung cerah katanya).”
“Ujang bade ngiring moal (Ujang mau ikut juga)?”
Sejenak aku ragu dengan ajakan Pak Sudir itu. Tidak, bukannya aku takut laut, hanya saja… seperti ada yang mengganjal di hatiku. Jujur saja, perasaan seperti ini sudah sangat sering kurasakan, terutama saat melihat Bapak pergi berlayar tengah malam. Tapi tetap saja aku merasa asing dengan rasa takut ini. Seperti perahu di tengah badai, di tengah laut.
“Ah… atos wae, atuh maneh jaga kios Uwak bae lah (udah, kamu jagain kios Uwak-mu sana).”
Aku tidak bisa menjawab kata-kata terakhir Bapak sebelum Beliau naik ke atas perahu dan berlayar bersama tiga orang pria lainnya. Rasanya… sama seperti melihat Ibu meninggalkan rumah di hari itu. Umurku saat itu sudah menginjak dua belas tahun, cukup mengerti tentang situasi macam itu. Dan sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagi untuk Ibu, karena air mata ini tidak cukup untuk membawanya kembali.
Tapi, apakah aku harus menangis hari ini? Untuk membuat perahu yang ditumpangi Bapak berbalik lagi?
Hari semakin sore, matahari pun sudah tidak seterik sebelumnya. Meski kekhawatiran itu masih ada, aku beranjak dari bebatuan dan kembali ke kios Uwak Imas. Begitu aku sampai di sana, Uwak Imas langsung menyambutku dengan semprotan mulut bawelnya. Aku hanya nyengir, tidak mau melawan sekaligus menutupi kekhawatiranku. Aku baru akan merasa lega kalau sudah melihat Bapak kembali.
Cerita tersebut memberikan inspirasi kepada kita bahwa ….
Teks menggambarkan bahwa meskipun penulis ingin merasakan kebebasan seperti layang- layang, ia menyadari bahwa kebebasan itu diikat oleh tanggung jawab, baik terhadap keluarga maupun terhadap laut.
Teks menggambarkan bahwa meskipun penulis ingin merasakan kebebasan seperti layang- layang, ia menyadari bahwa kebebasan itu diikat oleh tanggung jawab, baik terhadap keluarga maupun terhadap laut.
Puluhan layang-layang yang berada di atas kepalaku terlihat seperti rangkaian burung yang sedang bermigrasi. Angin pantai yang berhembus kencang membuat mereka terbang lebih jauh dan tinggi, tapi tetap di bawah kendali kekangan tali kenur. Aku ingin seperti layang-layang. Walau beberapa orang yang kukenal mengatakan, hidup seperti layang-layang tidak sepenuhnya bebas. Sekilas terlihat bebas, tapi sebuah tali tipis namun kuat mengaturnya.
Tapi aku tetap ingin menjadi layang-layang yang terbang tinggi di langit Pangandaran yang cerah ini.
Aku melihat sekeliling, pertengahan bulan Juli memang puncak liburan di mana-mana. Banyak wisatawan asing yang sedang bermain di Pantai Selatan ini. Entah itu bermain layang-layang atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan Pantai Pangandaran yang cerah ini. Aku sendiri sedang duduk di depan kios Uwak Imas yang berjualan pakaian.
Bau amis khas laut (dan juga karena pabrik ikan asin yang tidak jauh dari tempatku sekarang) sudah menjadi udara sehari-hari yang kuhirup. Sinar matahari yang terik menyentuh kulitku dengan ganas, tapi aku tetap bertahan duduk di luar kios. Pasalnya, Uwak Imas tengah sibuk melayani turis asing yang ingin membeli dagangannya. Aku tidak mau masuk, karena pasti Uwak Imas akan menyuruhku untuk melayani turis-turis itu, walaupun dia tahu kalau aku hanya bisa “yes” dan “no”.
Ketika aku mengalihkan pandangan dari layang- layang, aku melihat Bapak dan tiga orang lainnya berada di bibir pantai, bersiap untuk berlayar. Seingatku, Bapak sudah berlayar tadi malam, dan baru kembali tadi subuh. Kenapa sekarang mereka siap-siap ingin berlayar lagi? Apa tiba-tiba radar di kapal milik Haji Miun menangkap segerombolan ikan tuna di tengah laut sana? Eiy … itu pemikiran bodoh! Satu-satunya alat canggih yang mereka gunakan adalah naluri nelayan mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Kakiku bergerak ke arah mereka. Angin berhembus sangat keras di telingaku. Dibesarkan di pesisir pantai membuat aku memiliki ketakutan yang berbeda dari orang lain. Di saat orang lain ketakutan melihat keluarganya terombang-ambing ombak, aku merasakan hal yang jauh daripada itu. Aku takut membenci laut. Aku takut jika laut yang selama ini kuanggap teman, berbalik menjadi musuhku dan melenyapkan segala yang kucintai. Bagiku laut adalah rumah, dan rumahku adalah laut.
Saat aku sudah berada dekat dengan bibir pantai, Bapak melambai padaku sambil tersenyum. Kulitnya hitam karena terbakar matahari, rambutnya sudah memudar, bukan karena uban tapi karena sering terkena air laut. Bapakku masih terlihat segar, meski wajahnya sudah dipenuhi keriput.
Mata Bapak yang berwarna hitam pekat tampak bercahaya saat melihatku, seperti air laut yang memantulkan sinar matahari. Aku selalu suka Bapak yang tersenyum seperti itu, tapi entah kenapa kakiku bergetar melihat Beliau sekarang.
“Bapak bade ka laut deui (Bapak mau ngelaut lagi)?”
Bapak meletakkan jaring yang baru selesai ia rapikan ke dalam perahu. “Sanes, Jang. Iyeu Pak Sudir ngajak museup, mempeung cuacana sae (Enggak, Jang. Ini Pak Sudir ngajak mancing, mumpung cerah katanya).”
“Ujang bade ngiring moal (Ujang mau ikut juga)?”
Sejenak aku ragu dengan ajakan Pak Sudir itu. Tidak, bukannya aku takut laut, hanya saja… seperti ada yang mengganjal di hatiku. Jujur saja, perasaan seperti ini sudah sangat sering kurasakan, terutama saat melihat Bapak pergi berlayar tengah malam. Tapi tetap saja aku merasa asing dengan rasa takut ini. Seperti perahu di tengah badai, di tengah laut.
“Ah… atos wae, atuh maneh jaga kios Uwak bae lah (udah, kamu jagain kios Uwak-mu sana).”
Aku tidak bisa menjawab kata-kata terakhir Bapak sebelum Beliau naik ke atas perahu dan berlayar bersama tiga orang pria lainnya. Rasanya… sama seperti melihat Ibu meninggalkan rumah di hari itu. Umurku saat itu sudah menginjak dua belas tahun, cukup mengerti tentang situasi macam itu. Dan sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagi untuk Ibu, karena air mata ini tidak cukup untuk membawanya kembali.
Tapi, apakah aku harus menangis hari ini? Untuk membuat perahu yang ditumpangi Bapak berbalik lagi?
Hari semakin sore, matahari pun sudah tidak seterik sebelumnya. Meski kekhawatiran itu masih ada, aku beranjak dari bebatuan dan kembali ke kios Uwak Imas. Begitu aku sampai di sana, Uwak Imas langsung menyambutku dengan semprotan mulut bawelnya. Aku hanya nyengir, tidak mau melawan sekaligus menutupi kekhawatiranku. Aku baru akan merasa lega kalau sudah melihat Bapak kembali.
Tema dalam teks tersebut adalah ….
Teks ini sangat menekankan hubungan penulis dengan keluarganya, terutama dengan Bapak, dan mencerminkan perasaan kehilangan yang muncul ketika ia teringat pada Ibu yang telah tiada.
Teks ini sangat menekankan hubungan penulis dengan keluarganya, terutama dengan Bapak, dan mencerminkan perasaan kehilangan yang muncul ketika ia teringat pada Ibu yang telah tiada.
Setelah tidur lelap, esok pagi-pagi Sri mulai menyusun rencana. Dengan asumsi terus tinggal di penginapan ini, uang yang dia bawa cukup untuk tiga bulan ke depan membayar sewanya jika dia berhemat dengan pindah menyewa apartemen bulanan yang lebih murah, mungkin bisa membuatnya bertahan hingga lima sampai enam bulan. Sri melingkari tanggal, menandainya, sambil menghabiskan roti tawar.
Semakin cepat dia memperoleh pekerjaan, situasinya akan semakin baik. Baiklah, pekerjaan jenis apa yang bisa dilakukan? Sri meraih surat kabar pagi yang dipinjam dari petugas hotel, membuka halaman lowongan pekerjaan, dan mulai membaca. Tangan kirinya sesekali melingkari beberapa lowongan yang cocok, sementara tangan kanannya meraih buah apel. Cuaca dingin London membuat Sri lapar, dan repotnya, menu penginapan tidak bisa dia makan, selain roti dan buah-buahan.
Sri menyalin lima sampai enam lowongan pekerjaan di kertas. Pukul tujuh pagi dia turun ke meja tamu hotel, mengembalikan surat kabar.
“Di mana aku bisa menemukan rumah makan muslim?” Sri sekaligus bertanya.
“Itu tidak sulit, Mam. Ada satu restoran tidak jauh dari sini, setengah mil berjalan kaki ke arah barat. Mereka menjual nasi biryani.”
Sri mengangguk, “Satu lagi, apakah kamarku bisa dipindahkan ke lantai enam?”
Tentu saja bisa, Mam.”
Sri mengucapkan terima kasih, lalu kembali menuju pintu penginapan, dan dia mulai mencari pekerjaan lagi. Itulah rutinitas yang dilakukan Sri, berbeda dengan dulu setiba di Jakarta, kali ini dia tidak perlu berjalan kaki. Sri menumpang sistem transportasi massal Kota London yang nyaman. Setiap hari, dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bertanya lowongan pekerjaan, baru pukul enam atau tujuh malam kembali ke penginapan. Dua minggu berlalu dengan cepat. Nihil – ini tak jauh berbeda dengan di Jakarta dulu.
Tema kutipan novel tersebut adalah…
Tema merupakan hal yang menjadi dasar pengembangan cerita. Dalam kutipan cerita tersebut disampaikan perjuangan tokoh Sri dalam mencari pekerjaan di Indonesia dan di London. Terdapat perbedaan ketika Sri memanfaatkan transportasi umum yang nyaman dan tidak perlu berjalan kaki seperti di Jakarta (paragraf terakhir). Jadi, jawaban yang tepat adalah perbedaan perjuangan seseorang untuk mencari pekerjaan di dua negara karena budaya yang berbeda.
Tema merupakan hal yang menjadi dasar pengembangan cerita. Dalam kutipan cerita tersebut disampaikan perjuangan tokoh Sri dalam mencari pekerjaan di Indonesia dan di London. Terdapat perbedaan ketika Sri memanfaatkan transportasi umum yang nyaman dan tidak perlu berjalan kaki seperti di Jakarta (paragraf terakhir). Jadi, jawaban yang tepat adalah perbedaan perjuangan seseorang untuk mencari pekerjaan di dua negara karena budaya yang berbeda.
Setelah tidur lelap, esok pagi-pagi Sri mulai menyusun rencana. Dengan asumsi terus tinggal di penginapan ini, uang yang dia bawa cukup untuk tiga bulan ke depan membayar sewanya jika dia berhemat dengan pindah menyewa apartemen bulanan yang lebih murah, mungkin bisa membuatnya bertahan hingga lima sampai enam bulan. Sri melingkari tanggal, menandainya, sambil menghabiskan roti tawar.
Semakin cepat dia memperoleh pekerjaan, situasinya akan semakin baik. Baiklah, pekerjaan jenis apa yang bisa dilakukan? Sri meraih surat kabar pagi yang dipinjam dari petugas hotel, membuka halaman lowongan pekerjaan, dan mulai membaca. Tangan kirinya sesekali melingkari beberapa lowongan yang cocok, sementara tangan kanannya meraih buah apel. Cuaca dingin London membuat Sri lapar, dan repotnya, menu penginapan tidak bisa dia makan, selain roti dan buah-buahan.
Sri menyalin lima sampai enam lowongan pekerjaan di kertas. Pukul tujuh pagi dia turun ke meja tamu hotel, mengembalikan surat kabar.
“Di mana aku bisa menemukan rumah makan muslim?” Sri sekaligus bertanya.
“Itu tidak sulit, Mam. Ada satu restoran tidak jauh dari sini, setengah mil berjalan kaki ke arah barat. Mereka menjual nasi biryani.”
Sri mengangguk, “Satu lagi, apakah kamarku bisa dipindahkan ke lantai enam?”
Tentu saja bisa, Mam.”
Sri mengucapkan terima kasih, lalu kembali menuju pintu penginapan, dan dia mulai mencari pekerjaan lagi. Itulah rutinitas yang dilakukan Sri, berbeda dengan dulu setiba di Jakarta, kali ini dia tidak perlu berjalan kaki. Sri menumpang sistem transportasi massal Kota London yang nyaman. Setiap hari, dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bertanya lowongan pekerjaan, baru pukul enam atau tujuh malam kembali ke penginapan. Dua minggu berlalu dengan cepat. Nihil – ini tak jauh berbeda dengan di Jakarta dulu.
Manakah pernyataan yang merepresentasikan Sri sebagai seorang yang taat?
Tokoh Sri yang taat tergambar dalam kehati- hatiannya mengonsumsi makanan. Dapat diasumsikan bahwa tokoh Sri seorang muslim yang tidak makan sembarang makanan karena khawatir tidak halal. Hal tersebut diinterpretasikan dalam pernyataan “Di mana aku bisa menemukan rumah makan muslim?” Sri sekaligus bertanya.
Tokoh Sri yang taat tergambar dalam kehati- hatiannya mengonsumsi makanan. Dapat diasumsikan bahwa tokoh Sri seorang muslim yang tidak makan sembarang makanan karena khawatir tidak halal. Hal tersebut diinterpretasikan dalam pernyataan “Di mana aku bisa menemukan rumah makan muslim?” Sri sekaligus bertanya.
Tanaman kopi umumnya berdaun hijau sepanjang tahun, berbunga putih, dan menghasilkan buah kopi yang mirip dengan buah ceri, tetapi terbungkus dengan cangkang yang keras. Pemanenan buah kopi dari tangkai biasanya dilakukan secara manual, dipilih buah yang matang dan berwarna merah. Biji kopi kemudian dipisahkan dari kulit buah dan cangkangnya melalui penggilingan langsung atau dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari. Sebelum digiling, buah kopi umumnya dicuci terlebih dahulu sehingga fermentasi singkat dapat terjadi saat penggilingan. Di Indonesia, buah kopi umumnya dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari hingga kopi kering. Biji kopi yang sudah bersih kemudian disangrai dengan derajat dan waktu pemanasan tertentu. Kadar airnya tersisa 30-35%. Pemisahan biji dari cangkangnya dapat dilakukan dengan lebih mudah pada biji. Akhirnya, kopinya dihaluskan menjadi bubuk yang siap diseduh dengan air panas untuk menghadirkan minuman kopi.
Rasa nikmat minuman kopi sangat
ditentukan oleh suhu pemanasan dan tingkat kegosongan selama pemanggangan, selain juga ditentukan oleh jenis pohon kopinya. Di Indonesia dikenal dua jenis kopi, yaitu Arabika dan Robusta. Biji kopi Arabika mempunyai ukuran agak besar, pipih, sedikit memanjang, dan agak rapuh. Di lain pihak, biji kopi Robusta berukuran lebih kecil, berbentuk bulat, dan terlihat padat. Tanaman kopi Arabika tidak tahan panas dan rentan terhadap penyakit, tetapi cita rasa kopi Arabika lebih banyak disukai masyarakat.
Zat aktif yang terdapat dalam biji
kopi disebut kafein. Zat ini berasa pahit dan dipercaya dapat memberikan efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat, seperti mengurangi rasa kantuk, mengurangi rasa lelah, meningkatkan stamina tubuh, meningkatkan daya tangkap pancaindera, dan meningkatkan detak jantung. Dekafeinasi merupakan modifikasi produk kopi untuk mengurangi kadar kafein dan meningkatkan cita rasa kopi. Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam dekafeinasi antara lain melalui ekstraksi menggunakan air, pelarut kimia, karbondioksida superkritis, dan minyak biji bunga matahari. Dekafeinasi juga dapat dilakukan menggunakan arang aktif, mikroorganisme, atau enzim tertentu. Gas CO2 banyak terdapat di udara dan ekstraksi dengan pelarut CO2 superkritis dapat mengurangi kadar kafein dalam biji kopi hingga 96%, tetapi teknologi pengerjaannya memerlukan biaya yang tinggi.
Dekafeinasi dengan metode ektraksi yang mahal, tetapi efektif untuk mengurangi kadar kafein dalam biji kopi adalah…
Pernyataan tersebut terdapat pada paragraf ketiga kalimat terakhir Gas CO2 banyak terdapat di udara dan ekstraksi dengan pelarut CO2 superkritis dapat mengurangi kadar kafein dalam biji kopi hingga 96%, tetapi teknologi pengerjaannya memerlukan biaya yang tinggi.
Pernyataan tersebut terdapat pada paragraf ketiga kalimat terakhir Gas CO2 banyak terdapat di udara dan ekstraksi dengan pelarut CO2 superkritis dapat mengurangi kadar kafein dalam biji kopi hingga 96%, tetapi teknologi pengerjaannya memerlukan biaya yang tinggi.
Tanaman kopi umumnya berdaun hijau sepanjang tahun, berbunga putih, dan menghasilkan buah kopi yang mirip dengan buah ceri, tetapi terbungkus dengan cangkang yang keras. Pemanenan buah kopi dari tangkai biasanya dilakukan secara manual, dipilih buah yang matang dan berwarna merah. Biji kopi kemudian dipisahkan dari kulit buah dan cangkangnya melalui penggilingan langsung atau dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari. Sebelum digiling, buah kopi umumnya dicuci terlebih dahulu sehingga fermentasi singkat dapat terjadi saat penggilingan. Di Indonesia, buah kopi umumnya dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari hingga kopi kering. Biji kopi yang sudah bersih kemudian disangrai dengan derajat dan waktu pemanasan tertentu. Kadar airnya tersisa 30-35%. Pemisahan biji dari cangkangnya dapat dilakukan dengan lebih mudah pada biji. Akhirnya, kopinya dihaluskan menjadi bubuk yang siap diseduh dengan air panas untuk menghadirkan minuman kopi.
Rasa nikmat minuman kopi sangat
ditentukan oleh suhu pemanasan dan tingkat kegosongan selama pemanggangan, selain juga ditentukan oleh jenis pohon kopinya. Di Indonesia dikenal dua jenis kopi, yaitu Arabika dan Robusta. Biji kopi Arabika mempunyai ukuran agak besar, pipih, sedikit memanjang, dan agak rapuh. Di lain pihak, biji kopi Robusta berukuran lebih kecil, berbentuk bulat, dan terlihat padat. Tanaman kopi Arabika tidak tahan panas dan rentan terhadap penyakit, tetapi cita rasa kopi Arabika lebih banyak disukai masyarakat.
Zat aktif yang terdapat dalam biji
kopi disebut kafein. Zat ini berasa pahit dan dipercaya dapat memberikan efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat, seperti mengurangi rasa kantuk, mengurangi rasa lelah, meningkatkan stamina tubuh, meningkatkan daya tangkap pancaindera, dan meningkatkan detak jantung. Dekafeinasi merupakan modifikasi produk kopi untuk mengurangi kadar kafein dan meningkatkan cita rasa kopi. Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam dekafeinasi antara lain melalui ekstraksi menggunakan air, pelarut kimia, karbondioksida superkritis, dan minyak biji bunga matahari. Dekafeinasi juga dapat dilakukan menggunakan arang aktif, mikroorganisme, atau enzim tertentu. Gas CO2 banyak terdapat di udara dan ekstraksi dengan pelarut CO2 superkritis dapat mengurangi kadar kafein dalam biji kopi hingga 96%, tetapi teknologi pengerjaannya memerlukan biaya yang tinggi.
Salah satu ciri khas kopi Arabika adalah…
Berdasarkan teks pada paragraf kedua Biji kopi Arabika mempunyai ukuran agak besar, pipih, sedikit memanjang, dan agak rapuh dan tanaman kopi Arabika tidak tahan panas dan rentan terhadap penyakit. Pernyataan yang sesuai dengan ciri khas kopi Arabika sesuai teks adalah biji kopinya berukuran agak besar dan berbentuk pipih.
Berdasarkan teks pada paragraf kedua Biji kopi Arabika mempunyai ukuran agak besar, pipih, sedikit memanjang, dan agak rapuh dan tanaman kopi Arabika tidak tahan panas dan rentan terhadap penyakit. Pernyataan yang sesuai dengan ciri khas kopi Arabika sesuai teks adalah biji kopinya berukuran agak besar dan berbentuk pipih.
Tanaman kopi umumnya berdaun hijau sepanjang tahun, berbunga putih, dan menghasilkan buah kopi yang mirip dengan buah ceri, tetapi terbungkus dengan cangkang yang keras. Pemanenan buah kopi dari tangkai biasanya dilakukan secara manual, dipilih buah yang matang dan berwarna merah. Biji kopi kemudian dipisahkan dari kulit buah dan cangkangnya melalui penggilingan langsung atau dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari. Sebelum digiling, buah kopi umumnya dicuci terlebih dahulu sehingga fermentasi singkat dapat terjadi saat penggilingan. Di Indonesia, buah kopi umumnya dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari hingga kopi kering. Biji kopi yang sudah bersih kemudian disangrai dengan derajat dan waktu pemanasan tertentu. Kadar airnya tersisa 30-35%. Pemisahan biji dari cangkangnya dapat dilakukan dengan lebih mudah pada biji. Akhirnya, kopinya dihaluskan menjadi bubuk yang siap diseduh dengan air panas untuk menghadirkan minuman kopi.
Rasa nikmat minuman kopi sangat
ditentukan oleh suhu pemanasan dan tingkat kegosongan selama pemanggangan, selain juga ditentukan oleh jenis pohon kopinya. Di Indonesia dikenal dua jenis kopi, yaitu Arabika dan Robusta. Biji kopi Arabika mempunyai ukuran agak besar, pipih, sedikit memanjang, dan agak rapuh. Di lain pihak, biji kopi Robusta berukuran lebih kecil, berbentuk bulat, dan terlihat padat. Tanaman kopi Arabika tidak tahan panas dan rentan terhadap penyakit, tetapi cita rasa kopi Arabika lebih banyak disukai masyarakat.
Zat aktif yang terdapat dalam biji
kopi disebut kafein. Zat ini berasa pahit dan dipercaya dapat memberikan efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat, seperti mengurangi rasa kantuk, mengurangi rasa lelah, meningkatkan stamina tubuh, meningkatkan daya tangkap pancaindera, dan meningkatkan detak jantung. Dekafeinasi merupakan modifikasi produk kopi untuk mengurangi kadar kafein dan meningkatkan cita rasa kopi. Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam dekafeinasi antara lain melalui ekstraksi menggunakan air, pelarut kimia, karbondioksida superkritis, dan minyak biji bunga matahari. Dekafeinasi juga dapat dilakukan menggunakan arang aktif, mikroorganisme, atau enzim tertentu. Gas CO2 banyak terdapat di udara dan ekstraksi dengan pelarut CO2 superkritis dapat mengurangi kadar kafein dalam biji kopi hingga 96%, tetapi teknologi pengerjaannya memerlukan biaya yang tinggi.
Efek berikut BUKAN merupakan akibat konsumsi kafein adalah…
Berdasarkan isi teks pada paragraf ketiga zat ini (kafein) berasa pahit dan dipercaya dapat memberikan efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat, seperti mengurangi rasa kantuk, mengurangi rasa lelah, meningkatkan stamina tubuh, meningkatkan daya tangkap panca indera, dan meningkatkan detak jantung, yang bukan efek akibat mengonsumsi kafein adalah meningkatkan detak jantung.
Berdasarkan isi teks pada paragraf ketiga zat ini (kafein) berasa pahit dan dipercaya dapat memberikan efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat, seperti mengurangi rasa kantuk, mengurangi rasa lelah, meningkatkan stamina tubuh, meningkatkan daya tangkap panca indera, dan meningkatkan detak jantung, yang bukan efek akibat mengonsumsi kafein adalah meningkatkan detak jantung.